Total Tayangan Halaman
Sabtu, 12 Oktober 2013
Exotisme Candi Boko
Anda tentu kenal dengan situs Ratu Boko di Yogyakarta. Memang, situs satu ini belum setenar Candi Borobudur atau Candi Prambanan. Ternyata, situs ini sudah ada sebelum dibangunnya Candi Borobudur dan Candi Prambanan.
Letak Situs Ratu Boko ini dekat dengan Candi Prambanan. Lebih tepatnya 3 km arah selatan Candi Prambanan. Karena letaknya di atas bukit, Anda tidak hanya melihat situs kuno saja. Tapi juga pemandangan alam yang menakjubkan, disertai sejuknya angin yang berhembus.
Pemandangan Kota Yogya dan Candi Prambanan dengan latar belakang Gunung Merapi, dapat terlihat dengan jelas dari situs Ratu Boko. Di Keraton Ratu Boko ini, Anda tidak hanya melihat candi. Namun juga situs lain, seperti gapura, paseban, candi pembakaran, keputren atau tempat singgah para puteri, kolam pemandian puteri zaman dulu dan gua lanang-wadon.
Di sini, Anda bisa melihat adanya percampuran budaya dalam struktur Keraton Ratu Boko, yakni budaya Buddha dan Hindu. Situs Ratu Boko merupakan simbol kerukunan beragama di masa lalu.
Kalau dilihat dari sejarahnya, bisa dibilang situs Ratu Boko ini masih misterius. Ratu Boko merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno dari abad ke-8. Berdasarkan sejarah, dulu Ratu Boko digunakan oleh Dinasti Syailendra, sebelum masa Raja Samaratungga, pendiri Candi Borobudur dan Rakai Pikatan, pendiri Candi Prambanan.
Berdasarkan prasasti yang dikeluarkan Rakai Panangkaran pada 746-784 Masehi, pada awalnya bangunan yang ada di kawasan Ratu Boko disebut Abhayagiri Wihara. Abhaya berarti tidak ada bahaya, Giri berarti gunung atau bukit, Wihara berarti asrama atau tempat.
Sehingga Abhayagiri Wihara adalah asrama atau wihara para biksu agama Budha yang terletak di atas bukit penuh kedamaian. Pada masa berikutnya, antara 856-863 Masehi, Abhayagiri Wihara berganti nama menjadi Kraton Walaing yang diproklamirkan Raja Vasal bernama Rakai Walaing Pu Kumbayoni.
Prasasti Mantyasih yang berangka tahun 898-908 M yang dikeluarkan Rakai Watukara Dyah Balitung masih menyebut nama Walaing sebagai asal usul Punta Tarka sang pembuat prasasti Mantyasih. Dari awal abad 10 hingga akhir abad 16, tidak ada berita terkait Kraton Walaing ini.
90 tahun kemudian, yakni 1790, Van Boeckholtz menemukan adanya reruntuhan kepurbakalaan di atas situs Ratu Boko. 100 tahun kemudian, FDK Bosch mengadakan penelitian dan melaporkan hasil penelitiannya yang diberi judul Kraton Van Ratoe Boko.
detikTravel Community -
Minggu, 29 September 2013
Liburan ke Pantai Siung
Bila akhir pekan ini Anda liburan ke DI Yogyakarta dan bosan dengan suasana kota, pergilah ke Gunungkidul. Ada Pantai Siung dengan pasir yang lembut dan tebing yang tak kalah keren. Seru!
Pantai Siung menurut saya adalah pantai yang sangat indah seperti Teluk Ha Long di Vietnam. Semua mempunyai ciri khas tersendiri. Jika di Ha Long, ada air laut beserta tebing-tebing, di Pantai Siung, Gunungkidul ada pasir putih, biota laut, hamparan rumput laut beraneka warna. Tak ketinggalan deburan ombak beserta tebing-tebing. Sangat eksotis!
Di tebing pantai, banyak pendaki panjat tebing yang sering dijadikan ajang berlatih. Pantai ini terletak sekitar 70 km dari Kota Yogyakarta atau sekitar 2 jam perjalanan.
Sumber: detikTravel Community
Sabtu, 28 September 2013
Objek Wisata Terbaik di Indonesia
Jakarta - Cipta Award atau yang berkepanjangan Citra Pesona Wisata adalah penghargaan dari Kemenparekraf untuk objek wisata terbaik di Indonesia. Dari sekian banyak, terpilih 9 pemenang. Apa saja?
2013 Adalah tahun keempat diadakannya Cipta Award dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Tujuan utamanya adalah mengapresiasikan daya tarik wisata yang selama ini sudah ada untuk semakin dikembangkan dan maju.
"Daya tarik wisata yang bisa terpilih bukan mereka yang terbaik, tapi bagaimana mereka mengelola dengan baik, memberi efek positif bagi masyarakat sekitar dan tetap menjaga alam," tutur Dirjen Pengembangan Destinasi Wisata Kemenparekraf, Firmansyah Rahim dalam acara pembukaan Cipta Award 2013 di Ballroom Hotel Shangri-La, Jakarta, Jumat (27/9/2013) malam.
Jadi, bukan berarti objek wisata yang besar dan terkenal pasti jadi jawaranya. Bukan tidak mungkin juga, objek wisata kecil bisa jadi pemenang. Menurut Firmansyah, selama objek wisata tersebut memenuhi kriteria, kemungkinan menang selalu ada.
Kemenparekraf menambahkan, penghargaan ini jadi dorongan semangat bagi para pengembang destinasi wisata di seluruh Indonesia. Agar semakin memajukan objek-objek wisata yang ada dengan tetap menjunjung tinggi kearifan lokal.
"Semoga di tahun ke depannya makin banyak yang jadi lebih baik," tutur Kemenparekraf, Mari Elka Pangestu dalam acara yang sama.
Untuk penghargaan kali ini, ada 9 yang diberikan untuk masing-masing kategori. Beberapa objek wisata tidak bisa lagi masuk jadi pemenang karena sudah 3 kali berturut-turut jadi pemenang. Berikut 9 kategori pemenang penghargaan Cipta Award 2013:
1. Daya Tarik Wisata Alam yang dikelola oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN atau BUMD dimenangkan oleh Pura Ulun Danu Bratan di Bali.
2. Daya Tarik Wisata Alam yang dikelola oleh BUMS dimenangkan oleh Agrowisata Hutan Mangrove Lagoi di Riau.
3. Daya Tarik Wisata Alam yang dikelola oleh LSM, masyarakat atau perseorangan dimenangkan oleh Pulau Kakaban di Kalimantan Timur.
4. Daya Tarik Wisata Budaya yang dikelola oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN atau BUMD dimenangkan oleh Benteng Vredeburg di Yogyakarta.
5. Daya Tarik Wisata Budaya yang dikelola oleh BUMS dimenangkan oleh The Blanco Renaissance Museum di Bali.
6. Daya Tarik Wisata Budaya yang dikelola oleh LSM, masyarakat atau perseorangan dimenangkan oleh Desa Wisata Panglipuran di Bali.
7. Daya Tarik Wisata Buatan yang dikelola oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN atau BUMD dimenangkan oleh Owabong di Jawa Tengah.
8. Daya Tarik Wisata Buatan yang dikelola oleh BUMS skala kecil dimenangkan oleh Kampung Sampireun di Jawa Barat.
9. Daya Tarik Wisata Buatan yang dikelola oleh BUMS skala besar dimenangkan oleh Jatim Park 1, Jawa Timur.
Jumat, 02 Agustus 2013
Desa Wisata di Sleman Siap Sambut Wisatawan
Sebanyak 13 desa wisata yang
tersebar di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dengan keunikan
potensi dan keramahan masyarakat siap menyambut wisatawan pada Lebaran
2013.
"Desa-desa wisata di Sleman siap menyambut wisatawan, baik itu sebelum Lebaran tiba ataupun setelah merayakan Lebaran, Pengelola desa wisata siap menyambut dan menerima kunjungan wisatawan," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Ayu Laksmidewi, Kamis (1/8/2013).
Menurut dia berbagai sarana penunjang disiapkan termasuk juga paket ataupun kegiatan atraksi wisata yang ditawarkan khususnya saat Lebaran.
"Keberadaan desa wisata di Sleman ini diharapkan dapat memberikan warna lain bagi pariwisata di Sleman. Oleh sebab itu, diharapkan agar masing-masing desa wisata berani untuk menampilkan keunikan dan perbedaannya dengan desa wisatayang lain," katanya.
Ia mengatakan, masing-masing desa wisata pastinya bisa menampilkan yang unik. Itulah yang menjadikan desa wisata dapat dikenang wisatawan.
"Dengan demikian wisatawan akan merasa senang dan kerasan tinggal di desa wisata," katanya.
Ayu mengatakan berkait dengan kesiapan menyambut Lebaran tahun ini, sebagian pengelola desa wisata antusias untuk menyambut wisatawan disaat Lebaran.
"Sebanyak 13 desa wisata yang siap untuk menerima wisatawan pada libur Lebaran tahun ini, diantaranya desa wisata Tanjung siap setiap saat," tutur Ayu.
Sementara desa wisata Brayut mulai H-3, Sidoakur mulai H+2, Pulesari, Grogol dan Omah Dome mulai H+3, Kelor H+4, Gamplong dan Trumpon H+5. Kemudian, Desa Wisata Gabugan dan Sukunan H+7 dan Kembangarum H+10.
"Beberapa desa wisata justru di kala Lebaran sudah penuh karena datangnya para pemudik. Sebagian pengelola lebih siap menerima kunjungan wisatawan maksimal mulai seminggu setelah lebaran usai," tambahnya.
Pengelola Desa Wisata Gamplong Arif mengatakan saat Lebaran justru desa wisata ini tidak bisa menerima tamu yang menginap.
"Justru kami siap menerima tamu yang ingin datang dan berbelanja kerajinan di tempat kami," katanya.
Desa wisata Gamplong berada di Moyudan, Sleman, dengan ciri khas produk kerajinan ATBM berbahan baku lidi , mendong dan enceng gondok.
Sementara pengelola Desa Wisata Kelor Bangunkerto Turi Endro mengutarakan bahwa selama empat hari setelah hari H lebaran pihaknya telah menerima pesanan untuk kegiatan trah, outbond, dan paket wisata mancing.
"Seminggu setelah lebaran masih terbuka bagi wisatawan untuk berliburan dan beraktivitas di Desa Wisata Kelor," katanya.
"Desa-desa wisata di Sleman siap menyambut wisatawan, baik itu sebelum Lebaran tiba ataupun setelah merayakan Lebaran, Pengelola desa wisata siap menyambut dan menerima kunjungan wisatawan," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Ayu Laksmidewi, Kamis (1/8/2013).
Menurut dia berbagai sarana penunjang disiapkan termasuk juga paket ataupun kegiatan atraksi wisata yang ditawarkan khususnya saat Lebaran.
"Keberadaan desa wisata di Sleman ini diharapkan dapat memberikan warna lain bagi pariwisata di Sleman. Oleh sebab itu, diharapkan agar masing-masing desa wisata berani untuk menampilkan keunikan dan perbedaannya dengan desa wisatayang lain," katanya.
Ia mengatakan, masing-masing desa wisata pastinya bisa menampilkan yang unik. Itulah yang menjadikan desa wisata dapat dikenang wisatawan.
"Dengan demikian wisatawan akan merasa senang dan kerasan tinggal di desa wisata," katanya.
Ayu mengatakan berkait dengan kesiapan menyambut Lebaran tahun ini, sebagian pengelola desa wisata antusias untuk menyambut wisatawan disaat Lebaran.
"Sebanyak 13 desa wisata yang siap untuk menerima wisatawan pada libur Lebaran tahun ini, diantaranya desa wisata Tanjung siap setiap saat," tutur Ayu.
Sementara desa wisata Brayut mulai H-3, Sidoakur mulai H+2, Pulesari, Grogol dan Omah Dome mulai H+3, Kelor H+4, Gamplong dan Trumpon H+5. Kemudian, Desa Wisata Gabugan dan Sukunan H+7 dan Kembangarum H+10.
"Beberapa desa wisata justru di kala Lebaran sudah penuh karena datangnya para pemudik. Sebagian pengelola lebih siap menerima kunjungan wisatawan maksimal mulai seminggu setelah lebaran usai," tambahnya.
Pengelola Desa Wisata Gamplong Arif mengatakan saat Lebaran justru desa wisata ini tidak bisa menerima tamu yang menginap.
"Justru kami siap menerima tamu yang ingin datang dan berbelanja kerajinan di tempat kami," katanya.
Desa wisata Gamplong berada di Moyudan, Sleman, dengan ciri khas produk kerajinan ATBM berbahan baku lidi , mendong dan enceng gondok.
Sementara pengelola Desa Wisata Kelor Bangunkerto Turi Endro mengutarakan bahwa selama empat hari setelah hari H lebaran pihaknya telah menerima pesanan untuk kegiatan trah, outbond, dan paket wisata mancing.
"Seminggu setelah lebaran masih terbuka bagi wisatawan untuk berliburan dan beraktivitas di Desa Wisata Kelor," katanya.
Sumber :
Antara
Sabtu, 27 Juli 2013
Nampang di Tugu Jogja
detikTravel Community -
Rasanya, hampir semua wisatawan menyukai Kota Yogya. Selain banyaknya destinasi wisata, satu hal yang dapat Anda rasakan saat melancong ke Yogya adalah kenyamanan. Masyarakatnya pun terkenal ramah. Yogya selalu membuat rindu.
Ini adalah cerita alasan saya mencintai Kota Yogya. Inilah kota yang istimewa dan punya banyak sebutan, dari Kota Gudeg hingga Kota Pelajar. Kota Yogya pun punya moto, "Yogya Berhati Nyaman". Saya setuju dengan moto itu.
Kenyamanan adalah hal pertama yang saya rasakan ketika menapakan kaki di Kota Yogya. Kotanya punya banyak tempat wisata, seperti Keraton Yogya, alun-alun, kawasan Malioboro hingga beberapa monumen terkenal.
Banyak wisatawan yang datang ke tiap-tiap tempat wisata. Banyak yang foto-foto, atau sekedar duduk di alun-alun untuk berbincang. Yogya adalah Kota Pelajar. Tak heran, banyak universitas di sini yang didatangi oleh calon-calon mahasiswa dari luar wilayah Yogya.
Saat malam hari, suasana Yogya lebih istimewa. Cahaya dari lampu kota berpadu dengan gagahnya bangunan-bangunan tua yang berdiri di sana. Suasana menjadi romantis! Yogya, tak bisa sya berkata-kata lagi soal nyaman, cantik, dan indahnya kotamu.
Rasanya, hampir semua wisatawan menyukai Kota Yogya. Selain banyaknya destinasi wisata, satu hal yang dapat Anda rasakan saat melancong ke Yogya adalah kenyamanan. Masyarakatnya pun terkenal ramah. Yogya selalu membuat rindu.
Ini adalah cerita alasan saya mencintai Kota Yogya. Inilah kota yang istimewa dan punya banyak sebutan, dari Kota Gudeg hingga Kota Pelajar. Kota Yogya pun punya moto, "Yogya Berhati Nyaman". Saya setuju dengan moto itu.
Kenyamanan adalah hal pertama yang saya rasakan ketika menapakan kaki di Kota Yogya. Kotanya punya banyak tempat wisata, seperti Keraton Yogya, alun-alun, kawasan Malioboro hingga beberapa monumen terkenal.
Banyak wisatawan yang datang ke tiap-tiap tempat wisata. Banyak yang foto-foto, atau sekedar duduk di alun-alun untuk berbincang. Yogya adalah Kota Pelajar. Tak heran, banyak universitas di sini yang didatangi oleh calon-calon mahasiswa dari luar wilayah Yogya.
Saat malam hari, suasana Yogya lebih istimewa. Cahaya dari lampu kota berpadu dengan gagahnya bangunan-bangunan tua yang berdiri di sana. Suasana menjadi romantis! Yogya, tak bisa sya berkata-kata lagi soal nyaman, cantik, dan indahnya kotamu.
Kamis, 25 Juli 2013
Memanjakan Perut Dengan Sate Klatak, Sambal Belut, dan Bakmi Jowo
Jika Anda ingin merasakan makanan khas Yogya selain gudeg, Bantul mungkin punya apa yang Anda cari.
Akhir pekan lalu saya sengaja menjelajahi Bantul demi mendapatkan hidangan kuliner favorit. Saya sudah bisa membayangkan pada musim libur pasti warung-warung tradisional yang sudah terkenal seperti itu akan menjadi sasaran para wisatawan domestik.
Sebenarnya ada sangat banyak ragam kuliner di wilayah Bantul, salah satu yang menjadi favorit adalah sate klatak (ada juga yang menuliskan “klathak”). Sate klatak adalah sate kambing yang ditusuk menggunakan ruji sepeda, bukan tusuk sate biasa dari kayu. Dinamakan sate klatak karena ketika dibakar akan berbunyi klatak-klatak, sembari memercikkan api.
Sate klatak disajikan dengan kuah gule encer. (Olenka Priyadarsani)
Sore itu saya menyempatkan ke warung Sate Klatak Pak Pong, warung sate klatak yang bisa dibilang paling terkenal di antara warung-warung lain. Sebenarnya, sebagai orang Yogya, saya malu mengaku baru kali ini mencoba sate klatak. Rencana sih sudah ada dari dulu, entah kenapa baru kesampaian sekarang.
Proses pembakaran sate klatak di Warung Pak Pong. (Olenka Priyadarsani)
Ketika tiba di Sate Klatak Pak Pong, sudah berderet mobil-mobil dengan
plat nomor dalam maupun luar kota. Untungnya, walaupun ramai, saya tidak
perlu terlalu lama menunggu hingga pesanan datang. Ternyata satu porsi
sate hanya terdiri dari dua tusuk, dengan satu tusuknya berisi sekitar
delapan potong daging tanpa lemak. Sate tersebut disajikan dengan kuah
gulai encer.
Karena perut sudah melilit, langsung saya mulai santap sate dengan nasi panas. Secara otomatis, saya langsung mencari kecap manis yang sudah umum menjadi teman makan sate kambing. Ternyata di meja tidak disediakan. Sate klatak memang unik karena hanya dibumbui dengan garam saja. Benar juga sih, kalau ditambah kecap manis, apa bedanya dengan sate kambing biasa?
Gigitan pertama rasanya lumer di mulut. Dagingnya empuk sekali. Kematangan dan rasa asinnya juga pas. Bumbu yang sederhana tersebut justru membuat rasa daging kambing sangat menonjol. Asyiknya lagi, walaupun hanya dibumbui garam, tidak ada bau prengus sama sekali.
Porsi yang kecil itu menurut saya justru pas, karena pengunjung jadi bisa memesan menu-menu lain. Saya juga jadi tidak malu-malu untuk memesan tongseng kambing yang tidak kalah lezat. Menu lainnya antara lain gulai, tongseng otak, dan tongseng kaki kambing. Harga satu porsi sate hanya Rp14 ribu, cukup ramah di kantong untuk warung setenar itu.
Warung Sambal Belut Pak Sabar, walau letaknya tersembunyi tetap dicari orang. (Olenka Priyadarsani)
Esok harinya, masih belum puas dengan sate saja, saya meluncur mencari Sambel Welut Pak Sabar. Seperti namanya, menu utama berasal dari bahan baku berupa welut atau belut. Warungnya agak menyempil, tidak terlihat dari jalan besar, berada di belakang kuburan.
Sambal belut, belut goreng dan lalapannya. (Olenka Priyadarsani)
Warung Pak Sabar seperti rumah biasa, namun ternyata kursi-kursi untuk
tamu cukup banyak. Saya pun memesan sambal belut dan belut goreng.
Hidangan utama datang ditemani dengan lalapan berupa ketimun dan
kemangi, serta rebusan bayam.
Sambal belut berupa campuran antara daging belut yang diulek dengan sambal. Entah bumbunya apa saja, namun rasa didominasi oleh pedasnya cabai rawit dan kencur, serta tentu saja garam. Sambal belut ini cocok dengan nasi putih panas karena kalau orang Jawa bilang nglawuhi atau sangat cocok dijadikan lauk. Belut gorengnya pun renyah, bisa dimasak hingga kering atau setengah matang sesuai selera. Kabarnya, belut warung Pak Sabar ini semuanya adalah belut sawah, bukan ternakan, sehingga rasanya lebih gurih.
Bakmi jawa sangat lezat dinikmati panas-panas pada malam hari. (Olenka Priyadarsani)
Setiap saya pulang kampung ke Yogya, saya hampir tidak pernah melewatkan jajan masakan favorit saya yaitu bakmi jawa. Ada banyak warung bakmi jawa yang terkenal di Yogya, salah satu yang paling favorit adalah warung Mbah Mo.
Warung yang buka mulai pukul 17.00 ini menyediakan bakmi rebus, bakmi goreng, dan dan bakmi nyemek (rebus dengan air sedikit). Campuran antara ayam kampung dan telur bebek membuat rasa bakmi gurih dan lezat.
Saat liburan, pengunjung dapat menunggu pesanan hingga lebih dari satu jam karena bakmi harus dimasak satu per satu di atas tungku arang. Jadi, perlu kesabaran ekstra untuk menikmati lezatnya bakmi Mbah Mo.
Warung Bakmi Mbah Mo cukup jauh dari pusat kota Yogya, sekitar 15 km menuju ke arah selatan. Bagi yang belum pernah ke sini, Anda mungkin harus sering bertanya. Manfaatkan jasa tours kami untuk mengantar Anda menikmati hidangan-hidangan ini. Segera kontak kami.
Akhir pekan lalu saya sengaja menjelajahi Bantul demi mendapatkan hidangan kuliner favorit. Saya sudah bisa membayangkan pada musim libur pasti warung-warung tradisional yang sudah terkenal seperti itu akan menjadi sasaran para wisatawan domestik.
Sebenarnya ada sangat banyak ragam kuliner di wilayah Bantul, salah satu yang menjadi favorit adalah sate klatak (ada juga yang menuliskan “klathak”). Sate klatak adalah sate kambing yang ditusuk menggunakan ruji sepeda, bukan tusuk sate biasa dari kayu. Dinamakan sate klatak karena ketika dibakar akan berbunyi klatak-klatak, sembari memercikkan api.
Sore itu saya menyempatkan ke warung Sate Klatak Pak Pong, warung sate klatak yang bisa dibilang paling terkenal di antara warung-warung lain. Sebenarnya, sebagai orang Yogya, saya malu mengaku baru kali ini mencoba sate klatak. Rencana sih sudah ada dari dulu, entah kenapa baru kesampaian sekarang.
Karena perut sudah melilit, langsung saya mulai santap sate dengan nasi panas. Secara otomatis, saya langsung mencari kecap manis yang sudah umum menjadi teman makan sate kambing. Ternyata di meja tidak disediakan. Sate klatak memang unik karena hanya dibumbui dengan garam saja. Benar juga sih, kalau ditambah kecap manis, apa bedanya dengan sate kambing biasa?
Gigitan pertama rasanya lumer di mulut. Dagingnya empuk sekali. Kematangan dan rasa asinnya juga pas. Bumbu yang sederhana tersebut justru membuat rasa daging kambing sangat menonjol. Asyiknya lagi, walaupun hanya dibumbui garam, tidak ada bau prengus sama sekali.
Porsi yang kecil itu menurut saya justru pas, karena pengunjung jadi bisa memesan menu-menu lain. Saya juga jadi tidak malu-malu untuk memesan tongseng kambing yang tidak kalah lezat. Menu lainnya antara lain gulai, tongseng otak, dan tongseng kaki kambing. Harga satu porsi sate hanya Rp14 ribu, cukup ramah di kantong untuk warung setenar itu.
Esok harinya, masih belum puas dengan sate saja, saya meluncur mencari Sambel Welut Pak Sabar. Seperti namanya, menu utama berasal dari bahan baku berupa welut atau belut. Warungnya agak menyempil, tidak terlihat dari jalan besar, berada di belakang kuburan.
Sambal belut berupa campuran antara daging belut yang diulek dengan sambal. Entah bumbunya apa saja, namun rasa didominasi oleh pedasnya cabai rawit dan kencur, serta tentu saja garam. Sambal belut ini cocok dengan nasi putih panas karena kalau orang Jawa bilang nglawuhi atau sangat cocok dijadikan lauk. Belut gorengnya pun renyah, bisa dimasak hingga kering atau setengah matang sesuai selera. Kabarnya, belut warung Pak Sabar ini semuanya adalah belut sawah, bukan ternakan, sehingga rasanya lebih gurih.
Setiap saya pulang kampung ke Yogya, saya hampir tidak pernah melewatkan jajan masakan favorit saya yaitu bakmi jawa. Ada banyak warung bakmi jawa yang terkenal di Yogya, salah satu yang paling favorit adalah warung Mbah Mo.
Warung yang buka mulai pukul 17.00 ini menyediakan bakmi rebus, bakmi goreng, dan dan bakmi nyemek (rebus dengan air sedikit). Campuran antara ayam kampung dan telur bebek membuat rasa bakmi gurih dan lezat.
Saat liburan, pengunjung dapat menunggu pesanan hingga lebih dari satu jam karena bakmi harus dimasak satu per satu di atas tungku arang. Jadi, perlu kesabaran ekstra untuk menikmati lezatnya bakmi Mbah Mo.
Warung Bakmi Mbah Mo cukup jauh dari pusat kota Yogya, sekitar 15 km menuju ke arah selatan. Bagi yang belum pernah ke sini, Anda mungkin harus sering bertanya. Manfaatkan jasa tours kami untuk mengantar Anda menikmati hidangan-hidangan ini. Segera kontak kami.
Selasa, 16 Juli 2013
Lava Tour dan Desa Wisata
SLEMAN, KOMPAS.com - Obyek wisata di Kabupaten Sleman,
Daerah Istimewa Yogyakarta, dikunjungi sebanyak 150.160 wisatawan selama
liburan sekolah. "Jumlah tersebut melampaui target yang ditetapkan
sebanyak 50.000 wisatawan," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Kabupaten Sleman, Ayu Laksmidewi, Selasa (16/7/2013).
Menurut Ayu, pencapaian tersebut dinilai diluar perkiraan karena liburan akhir sekolah bertepatan dengan bulan puasa sehingga hal ini menggembirakan. "Ini merupakan sesuatu hal yang membanggakan," katanya.
Menurut Ayu, akumulasi angka kunjungan wisatawan selama liburan akhir sekolah tersebut dihitung 17 hari sejak 28 Juni hingga 14 Juli 2013 di berbagai destinasi wisata.
"Penyebaran kunjungan wisatawan tersebut meliputi kunjungan ke obyek wisata Kaliurang sebanyak 15.430 wisatawan yang meliputi Taman Rekreasi Anak (3.452 wisatawan), Taman Nasional Gunung Merapi (4.543 wisatawan), Jeep Wisata Kaliurang (3.520 wisatawan), dan Museum Ullen Sentalu (3.322 wisatawan)," katanya.
Kemudian, Candi Prambanan dikunjungi 85.103 wisatawan yang terdiri 73.985 wisatawan nusantara dan 11.118 wisatawan mancanegara. Selanjutnya Candi Ratu Boko 11.352 wisatawan meliputi 11.159 wisatawan nusantara dan 193 wisatawan mancanegara, Volcano Tour Cangkingan 27.125 wisatawan.
Museum Gunungapi Merapi dikunjungi 6.460 wisatawan meliputi 6.330 wisatawan nusantara dan 130 wisatawan mancanegara dan Monumen Jogja Kembali sebanyak 13.678 wisatawan.
"Selain itu wisatawan yang berkunjung ke beberapa desa wisata tercatat 2.364 wisatawan, yang terdiri atas Desa Wisata Sidoakur (85 wisatawan), Desa Wisata Tanjung (109 wisatawan), Gamplong (200 wisatawan), Pentingsari (360 wisatawan), dan Pulesari (1.610 wisatawan)," tambah Ayu.
Menurut Ayu, pencapaian tersebut dinilai diluar perkiraan karena liburan akhir sekolah bertepatan dengan bulan puasa sehingga hal ini menggembirakan. "Ini merupakan sesuatu hal yang membanggakan," katanya.
Menurut Ayu, akumulasi angka kunjungan wisatawan selama liburan akhir sekolah tersebut dihitung 17 hari sejak 28 Juni hingga 14 Juli 2013 di berbagai destinasi wisata.
"Penyebaran kunjungan wisatawan tersebut meliputi kunjungan ke obyek wisata Kaliurang sebanyak 15.430 wisatawan yang meliputi Taman Rekreasi Anak (3.452 wisatawan), Taman Nasional Gunung Merapi (4.543 wisatawan), Jeep Wisata Kaliurang (3.520 wisatawan), dan Museum Ullen Sentalu (3.322 wisatawan)," katanya.
Kemudian, Candi Prambanan dikunjungi 85.103 wisatawan yang terdiri 73.985 wisatawan nusantara dan 11.118 wisatawan mancanegara. Selanjutnya Candi Ratu Boko 11.352 wisatawan meliputi 11.159 wisatawan nusantara dan 193 wisatawan mancanegara, Volcano Tour Cangkingan 27.125 wisatawan.
Museum Gunungapi Merapi dikunjungi 6.460 wisatawan meliputi 6.330 wisatawan nusantara dan 130 wisatawan mancanegara dan Monumen Jogja Kembali sebanyak 13.678 wisatawan.
"Selain itu wisatawan yang berkunjung ke beberapa desa wisata tercatat 2.364 wisatawan, yang terdiri atas Desa Wisata Sidoakur (85 wisatawan), Desa Wisata Tanjung (109 wisatawan), Gamplong (200 wisatawan), Pentingsari (360 wisatawan), dan Pulesari (1.610 wisatawan)," tambah Ayu.
Langganan:
Postingan (Atom)




