Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label Sate klatak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sate klatak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Juli 2013

Memanjakan Perut Dengan Sate Klatak, Sambal Belut, dan Bakmi Jowo

Jika Anda ingin merasakan makanan khas Yogya selain gudeg, Bantul mungkin punya apa yang Anda cari.

Akhir pekan lalu saya sengaja menjelajahi Bantul demi mendapatkan hidangan kuliner favorit. Saya sudah bisa membayangkan pada musim libur pasti warung-warung tradisional yang sudah terkenal seperti itu akan menjadi sasaran para wisatawan domestik.

Sebenarnya ada sangat banyak ragam kuliner di wilayah Bantul, salah satu yang menjadi favorit adalah sate klatak (ada juga yang menuliskan “klathak”). Sate klatak adalah sate kambing yang ditusuk menggunakan ruji sepeda, bukan tusuk sate biasa dari kayu. Dinamakan sate klatak karena ketika dibakar akan berbunyi klatak-klatak, sembari memercikkan api.
Sate klatak disajikan dengan kuah gule encer. (Olenka Priyadarsani)
Sore itu saya menyempatkan ke warung Sate Klatak Pak Pong, warung sate klatak yang bisa dibilang paling terkenal di antara warung-warung lain. Sebenarnya, sebagai orang Yogya, saya malu mengaku baru kali ini mencoba sate klatak. Rencana sih sudah ada dari dulu, entah kenapa baru kesampaian sekarang.
Proses pembakaran sate klatak di Warung Pak Pong. (Olenka Priyadarsani) Ketika tiba di Sate Klatak Pak Pong, sudah berderet mobil-mobil dengan plat nomor dalam maupun luar kota. Untungnya, walaupun ramai, saya tidak perlu terlalu lama menunggu hingga pesanan datang. Ternyata satu porsi sate hanya terdiri dari dua tusuk, dengan satu tusuknya berisi sekitar delapan potong daging tanpa lemak. Sate tersebut disajikan dengan kuah gulai encer.

Karena perut sudah melilit, langsung saya mulai santap sate dengan nasi panas. Secara otomatis, saya langsung mencari kecap manis yang sudah umum menjadi teman makan sate kambing. Ternyata di meja tidak disediakan. Sate klatak memang unik karena hanya dibumbui dengan garam saja. Benar juga sih, kalau ditambah kecap manis, apa bedanya dengan sate kambing biasa?

Gigitan pertama rasanya lumer di mulut. Dagingnya empuk sekali. Kematangan dan rasa asinnya juga pas. Bumbu yang sederhana tersebut justru membuat rasa daging kambing sangat menonjol. Asyiknya lagi, walaupun hanya dibumbui garam, tidak ada bau prengus sama sekali.

Porsi yang kecil itu menurut saya justru pas, karena pengunjung jadi bisa memesan menu-menu lain. Saya juga jadi tidak malu-malu untuk memesan tongseng kambing yang tidak kalah lezat. Menu lainnya antara lain gulai, tongseng otak, dan tongseng kaki kambing. Harga satu porsi sate hanya Rp14 ribu, cukup ramah di kantong untuk warung setenar itu.
Warung Sambal Belut Pak Sabar, walau letaknya tersembunyi tetap dicari orang. (Olenka Priyadarsani)
Esok harinya, masih belum puas dengan sate saja, saya meluncur mencari Sambel Welut Pak Sabar. Seperti namanya, menu utama berasal dari bahan baku berupa welut atau belut. Warungnya agak menyempil, tidak terlihat dari jalan besar, berada di belakang kuburan.
Sambal belut, belut goreng dan lalapannya. (Olenka Priyadarsani) Warung Pak Sabar seperti rumah biasa, namun ternyata kursi-kursi untuk tamu cukup banyak. Saya pun memesan sambal belut dan belut goreng. Hidangan utama datang ditemani dengan lalapan berupa ketimun dan kemangi, serta rebusan bayam.

Sambal belut berupa campuran antara daging belut yang diulek dengan sambal. Entah bumbunya apa saja, namun rasa didominasi oleh pedasnya cabai rawit dan kencur, serta tentu saja garam. Sambal belut ini cocok dengan nasi putih panas karena kalau orang Jawa bilang nglawuhi atau sangat cocok dijadikan lauk. Belut gorengnya pun renyah, bisa dimasak hingga kering atau setengah matang sesuai selera. Kabarnya, belut warung Pak Sabar ini semuanya adalah belut sawah, bukan ternakan, sehingga rasanya lebih gurih.
Bakmi jawa sangat lezat dinikmati panas-panas pada malam hari. (Olenka Priyadarsani)
Setiap saya pulang kampung ke Yogya, saya hampir tidak pernah melewatkan jajan masakan favorit saya yaitu bakmi jawa. Ada banyak warung bakmi jawa yang terkenal di Yogya, salah satu yang paling favorit adalah warung Mbah Mo.

Warung yang buka mulai pukul 17.00 ini menyediakan bakmi rebus, bakmi goreng, dan dan bakmi nyemek (rebus dengan air sedikit). Campuran antara ayam kampung dan telur bebek membuat rasa bakmi gurih dan lezat.

Saat liburan, pengunjung dapat menunggu pesanan hingga lebih dari satu jam karena bakmi harus dimasak satu per satu di atas tungku arang. Jadi, perlu kesabaran ekstra untuk menikmati lezatnya bakmi Mbah Mo.

Warung Bakmi Mbah Mo cukup jauh dari pusat kota Yogya, sekitar 15 km menuju ke arah selatan. Bagi yang belum pernah ke sini, Anda mungkin harus sering bertanya. Manfaatkan jasa tours kami untuk mengantar Anda menikmati hidangan-hidangan ini. Segera kontak kami.

Selasa, 04 Juni 2013

Menikmati Sate Klatak

WWW.REKOMENDASI.ME
Nikmatnya Sate Klatak Khas Yogyakarta
KOMPAS.com - Sudah beberapa kali saya pergi ke Yogyakarta tetapi belum pernah nyobain sekalipun sate klatak yang sudah sangat terkenal di daerah ini. Memang lokasinya lumayan jauh dari pusat kota. Anda harus menempuh kira-kira 25 menit ke daerah Jalan Imogiri.
Daerah ini terkenal dengan pusat penjual sate klatak, banyak penjual sate klatak di sepanjang jalan ini. Kami malam ini bertiga bersama sahabat pergi menuju ke Sate Klatak Pak Pong sekitar pukul 22.00.
Sate klatak itu sangat khas, potongan daging kambing yang cukup besar-besar dan tusuk satenya dari jeruji besi sepeda. Dan ternyata rasanya sedikit asin tetapi gurih dan disajikan tanpa sambal kecap. Beda dengan menu sate kambing pada umumnya.
sate-klatak
Dalam satu porsi terdiri dari dua tusuk saja, tetapi selain potongan dagingnya cukup besar, dalam satu tusuk isinya juga lumayan banyak. Hmm... enak nih sate klataknya, daging empuk dan terasa sedikit garing. Kita juga diberi satu piring kuah gule sebagai tambahan. Tapi kalau Anda mau pakai sambal kecap, tinggal minta, nanti disediakan.
Akhirnya kesampaian juga saya makan sate klatak di Yogyakarta. Memang sate ini unik dan nikmat. Sangat menyenangkan bisa menikmati salah satu kuliner khas di Kota Gudeg ini. (Frans)